PDF

WAYANG SUPERSTAR;Catatan perjalan pentas "Dewa Ruci" - Ki Enthus di Belanda & Perancis.

Ditulis oleh Administrator on .

enthusAmsterdam 17 juni, 9 laki-laki dan 1 perempuan dari Jawa akhirnya keluar dari pintu khusus bagian Imigrasi Kerajaan Belanda, setelah sekian lama harus melewati pemeriksaan yang lumayan ketat.

Selamat datang di Amsterdam ! sambut 2 orang penting dari panitia sambil mereka bangga memamerkan matahari pagi itu yang bersinar terang meski berbalut angin kencang berhawa dingin. Kepulan asap beraroma rokok kretekpun akhirnya menyengat hadir di halaman parkir Bandara Schipool-Amsterdam untuk mengusir rasa dingin. Meski musim panas – summer sedang berlangsung, namun suhu luar di Amsterdam saat itu masih di kisaran 18-22 derajat celicius.

Ki Enthus bersama 9 krunya  krunya meluncur masuk ke jantung kota Amsterdam menuju tempat dimana kami akan meginap. Di sepanjang perjalanan yang kami lewati terpampang banyak poster berukuran besar dengan ilustrasi gambar wayang planet Batman, WAYANG SUPERSTAR – Ki Enthus Susmono Met Gamelan Orkest – Twee exclusieve en spectaculaire voorstellingen uit Indonesie. Wayang Superstar : Ki Enthus Susmono bersama Orkestra Gamelan – 2 Pertunjukan Eksklusive dan Spectakuler dari Indonesia, poster dengan bahasa belanda tersebut kami jumpai hampir disetiap persimpangan jalan di Amsterdam dan beberapa ruang-ruang public seperti taman kota maupun  halte trem. Poster-poster itu terlihat cukup unik diantara poster-poster event lainnya.  Totontonan Wayang Superstar yang diorganisasi oleh Tropen Theater diprediksi akan mampu bersaing dengan beragam events di Amsterdam yang sedang berlangsung events besar yaitu Holand Festival.


Amsterdam 18 Juni, pagi hari saat kami melahap omlet dan roti, panitia mengabarkan bahwa tiket sudah terjual habis dan mereka meminta ijin kepada kami untuk menambah kursi di deretan samping kanan dan kiri panggung. “ Silahkan saja, mau nambah tempat duduk dimanapun OK, di kanan, di kiri, di belakang panggung atau bahkan penonton naik di panggungpun tidak ada masalah, karena begitulah tradisi menonton wayang kulit di negeri kami, asal jangan di samping dalang!! “ jelas & gurau ki enthus kepada panitia. Jujur saja kabar  itu terasa lebih nikmat dari omlet dan roti yang sedang kami makan, lebih ber-suplemen daripada jus buah kombinasi yang penginapan tawarkan kepada kami. Kami menjadi bangga dan yakin untuk tampil tanggal 19 dan 20 Juni di Light Hall Tropen Musuem dihadapan hampir 600 orang di setiap malamnya.  Jumlah penonton yang fantastis mengingat Wayang Superstar bukanlah pertunjukan Opera yang jelas digemari oleh public di Belanda.


Light Hall Tropen Museum tampak megah dan spektakuler. Hall museum yang biasanya luas dan lengang telah disulap menjadi panggung wayang yang megah dilengkapi dengan kursi-kursi dipanggung berundak. Mungkin terasa terlalu steril dibanding tradisi menonoton wayang kulit di Indonesia. Terlihat juga di kanan dan kiri pangung sederetan  alas duduk lesehan, terasa lebih akrab dan dekat, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa konsep penataan penonton seperti itu akan memberikan kenyamanan melihat pertunjukan wayang dari sudut manapun, didukung oleh kehadiran layar lebar yang dipasang tepat diatas kelir wayang membuat penonton bisa melihat proyeksi bayang-bayangnya.


Lighthall Tropen Museum 19 Juni Pukul 20.30, saat itu matahari masih terang benderang karena summer time di eropa “menghadiahkan” pertemuan dengan matahari lebih lama dari musim-musinm lainnya, menjelang pukul 23.00 barulah mereka akan merasa kehilangan matahari.  Dan penontonpun telah memenuhi seluruh tempat duduk yang tersedia.


Sebelum pertunjukan Dewa Ruci dimulai, Pim Westerkamp memberikan pengantar pertunjukan dengan memperkenalkan seluruh tokoh-tokoh wayang yang akan dimainkan dalam cerita Dewa Ruci. Tak ketinggalan Wayang golek Gus Dur (mantan presiden RI) yang akan menjadi bintang tamu dalam pertunjukan Dewa Ruci malam itu juga diperkenalkan, sambutan penontonpun sangat luar biasa ketika golek Gus Dur diperkenalkan.


Pim Westerkamp kemudian juga menjelaskan dengan detail garis cerita tentang lakon Dewa Ruci. Pengkondisian awal tentang hal ini menjadi sangat penting karena faktor bahasa tutur yang digunakan oleh Ki Enthus adalah bahasa Indonesia.


Kenapa tidak menggunakan subtitle?

Jawabannya adalah tidak perlu. Pihak organizer sangat menyakini kekuatan gesture gerak wayang yang dimainkan oleh Ki Enthus dalam pertunjukan Dewa Ruci akan berbicara banyak kepada penonton. Penataan alur dramaturgi yang sederhana dan linear serta didukung kemampuan musikalitas dari gamelan dalam membangun suasana di setiap adegan diyakini akan memberikan impresi yang bulat, karena penonton akan focus terbawa dalam konstruksi cerita yang dibangun oleh Ki Enthus. Konsentrasi penonton tidak akan terpecah karena harus membaca terjemahan dari tutur sang dalang. Bekal penjelasan awal tentang garis cerita dan pengenalan tokoh-tohoh dalam lakon Dewa Ruci akan menjadi katalisator dalam memahami apa yang sedang terjadi dan berlangsung di dalam kelir wayang.


Bagimana dengan adegan semacam goro-goro, atau adegan sejenis yang sifatnya sangat interaktif dengan penonton?

Suasana cair dan interaktif tidak melulu dibangun dengan kekuatan tutur. Kita bisa belajar dari film-film kartun luar negeri yang sangat interaktif tanpa harus mengumbar kata. Kita bisa tertawa, tersenyum dan mengetahui seluruh ceritanya melalui bahasa gerak. Dan gerak wayang adalah bahasa yang universal. Pendekatan itulah yang diadaptasi oleh Ki Enthus untuk membangun interaksi dengan penonton di Amsterdam, tentunya dibumbui dengan beberapa kosakata bahasa belanda yang sederhana tapi tajam. Dan tanpa ragu Ki Enthus sempat meminta salah satu penonton untuk naik ke panggung, berinteraksi dengan dalang, sinden dan pengrawit. Spontanitas adegan seperti itu adalah tradisi dalam pertunjukan wayang kulit ki enthus, dan tanpa canggung dia terapkan pada public Amsterdam. “Saya tidak perlu terbebani dengan apa yang harus terjadi di panggung saat itu, berhasil atau tidak tindakan spontanitas membangun interaksi itu tidaklah menjadi kekawatiran saya,    karena saya yakin pasti ada ruang dan momentum mengambil keputusan estetik untuk mengembalikan perhatian penonton kembali pada alur cerita yang semestinya


Kejutan-kejutan visual di dalam kelir serta aksentuasi dengan memunculkan karakter khusus seperti wayang golek Gus Dur dan kehadiran tata lampu yang maksimal membuat intensitas penontonpun terjaga. Penonton juga disuguhi kekayaan visual dan gesture gerak dari 2 bentuk wayang sekaligus dalam sebuah pertunjukan karena malam itu ki enthus menerapkan konsep 2 panggung dalam satu cerita, yaitu panggung wayang kulit dan wayang golek dengan penggarapan transisi yang luwes tanpa penonton merasa kehilangan jejak ceritanya.


Dan hasilnya adalah tontonan wayang berdurasi 2 jam yang mampu membuat penonton malam itu bertepuk tangan sambil berdiri untuk sekian lama dan tak urung apresiasi yang luar biasa tersebut membuat ki enthus dan para pengrawit harus rela keluar masuk panggung hingga beberapa kali sebagai bentuk penghargaan atas tradisi puncak penonton dalam menghargai sebuah seni pertunjukan.

 

Magisme dalam Pertunjukan Fantastis Dewa Ruci


Saint Florent le veiel, sebuah kota tua yang menjadi habitat sejumlah situs bersejarah berupa gereja-gereja tertua di Perancis dan jejak perjalanan kaum Viking.


Di tempat itulah sebuah festival prestigious “Les Orientales Festival” digelar untuk kesebelas kalinya.. Sebuah panggung berkonsep sirkus dibangun di komplek situs tua tersebut lengkap dengan tenda sirkus berkapasitas +/- 600 orang. Terlihat mendominasi nuansa dan suasana bollywood pada festival kali ini. Group kesenian dari beberapa Negara hadir adalam festival ini seperti Iran, India, Indonesia, Algeria, China, Mongolia dan beberapa negara di wilayah Asia Tengah.


Dan penampilan Ki Enthus di dalam festival itu memang diharapkan memberikan nuansa yang berbeda, di tengah dominasi nuansa India yang kental. Adalah kali pertama festival ini menampilkan pertunjukan wayang. Dari pihak panitia festival telah mempersiapkan serangkaian kegiatan promosi untuk penampilan Ki Enthus.Beberapa stasiun TV local maupun Nasional dilibatkan dalam agenda ini untuk menampilkan demo-demo pendek Ki Enthus  dengan beberapa wayang goleknya.


Ki Enthus didaulat menampilkan 2 lakon wayang dalam festival tersebut. Lakon pertama adalah “Timun Mas”. Lakon ini menampilkan pertunjukan wayang golek berdurasi 1 jam yang dipresentasikan dihadapan anak-anak.  Lakon ini lebih mengandalkan pada gesture gerak wayang golek, minim sekali teks tutur dari dalang Jalan cerita yang sederhana dengan pembagian karakter tokoh baik dan jahat yang sangat kentara dengan bumbu atraktivitas gerak-gerak wayang golek membuat anak-anak dan orang tua yang mendampingi mereka betah menonton sampai “Timun Mas”  mampu mengalahkan Si Buto Ijo.  Pada akhir pertunjukan terlihat antusiasme anak-anak dan orang tuanya mendekat ke panggung wayang golek untuk melihat lebih dekat sambil memainkan beberapa wayang golek.


Berselang 5 jam dari pertunjukan Timun Mas, lonceng gereja tua saling bersahut karena waktu sudah menjelang pukul 10 malam. Kami bersiap untuk menampilkan “Dewa Ruci”. Lagi-lagi kami dapatkan suplemen manjur sebelum kami tampil “ Tiket Terjual Habis”.


Gending manguyu-uyu mengalun, sebuah gending tradisi yang dimainkan oleh dedek wahyudi dkk. Sang dalangpun bersiap bertransformasi untuk memindahkan segenap pikiran dan energinya ke dalam wayang dan jagad putih yang terbentang di hadapannya. Khidmat, kusuk dan terasa sacral membuka suasana pertunjukan malam itu. Sirepnya gong suwukan dibarengi tarikan nafas ber-basmallah terdengar bunyi dodogan cempala, suasanapun mengalir, perlahan lampu yang menerangi karawitan dan penontonpun meredup mengantarkan seluruh perhatian pada jagad putih yang masih bisu. Namun tak lama kebisuan itupun sirna berganti dengan kilatan dan sambaran 2 gunungan kembar, pemandangan silih berganti antara keindahan visual dan suasana ketegangan yang seolah tak berujung. Bunyi-bunyi yang terdengarpun bukan lagi gending klasik tapi sebuah komposisi gamelan progressif, powerfull sesekali diselingi dengan dentuman bunyi dari gong china yang keras dan sember. Sang Bima-pun hadir di tengah suasana ini membuka cerita tentang kegalauannya menimba ilmu “sangkan paraning dumadi” kepada Guru Dorna.

Kekuatan dan keteguhan Bima untuk mendapatkan ilmu “sangkan paraning dumadi” pun mampu menghipnotis penonton malam itu.  Suasana magis dan sacral masih kental terasa, meski berkali-kali Ki Enthus dengan sadar menuangkan adegan komedi lewat gerak wayang golek yang terlihat hidup dan penuh daya kejut.


Rupanya Ki Enthus sangat sadar memaksimalkan potensi visual gerak wayang. Kejeliannya memilih adegan mana yang harus diperagakan dengan media wayang golek atau wayang kulit  merupakan elemen penting dalam membangun dinamika visual dan suasana tiap adegan yang terjadi.  Suasana sacral dan magis dalam pertunjukan Dewa Ruci banyak Ki Enthus tuangkan permainan bayang-bayang yang memukau tanpa harus terjebak dalam suasana “hitam putih” yang monoton, karena dengan keragaman property yang dia mainkan mampu memberikan kekayaan kesan maupun  visual realis yang sangat membantu memilahkan setting tempat maupun waktu tiap-tiap adegannya.


Alhasil, jika public Belanda bertepuk tangan sambil berdiri untuk menyampaikan kesan mendalamnya setelah pertunjukan Dewa Ruci usai, berbeda dengan public di perancis, mereka akan bertempuk tangan sambil berteriak; bravo …bravo…bravo.  Dan kami bahagia dan terhormat telah merasakan keduanya dalam rangkain pentas perdana kami di eropa.

Polling Anda

Bagaimana tampilan baru website Ki Enthus menurut penilaian Anda?