|
Ki Enthus Susmono: Creator of contemporary wayang characters |
|
|
|
|
Ditulis oleh Honggo Utomo
|
|
Rabu, 07 Juli 2010 03:59 |
|
Agus Maryono, The Jakarta Post, Purwokerto, Central Java | Tue, 07/06/2010 9:10 AM | People

Ki Enthus Susmono: JP/Agus Maryono
A dalang or puppet master should not only be versed in the world of wayang (shadow puppet) performances but also have a broad knowledge of current developments in society, not just history.
This is the view of Ki Enthus Susmono, an eccentric dalang from Tegal, Central Java, popularly known as “dalang edan” (crazy puppeteer) because of his departure from the conventional practice in this art.
Enthus Susmono, 46, has gained notoriety for his maverick style of puppetry and is surely familiar among lovers of wayang kulit (leather puppet) shows in Indonesia. His performances have always drawn hundreds of fans, an achievement of spectatorship comparable only to the previous records of his very few seniors.
“It’s all because I’ve explored with my creations and made innovations in puppetry; otherwise today’s youths would not be interested in wayang shows,” Enthus Susmono told The Jakarta Post in Purwokerto recently.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
|
Wayang RAI WONG Mencoba Bangkit di Antara Kegelisahan |
|
|
|
|
Jumat, 12 Februari 2010 02:41 |
|

Agar lebih populer, wayang dibuat menyerupai tokoh dunia, seperti Superman, George W Bush, dan Saddam Husein.
''Dalam 20 tahun ke depan siapa lagi yang akan mewarisi bakat menjadi dalang?'' Begitulah komentar pembuka dari mulut Ki Enthus Susmono, dalang wayang alternatif, saat memberi sambutan pada Pameran Wayang Rai yang dihajat di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, Jakarta, akhir pekan lalu.
Pernyataan yang sarat dengan kegalauan dari pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, itu memang bisa dimahfumi. Sebagai 'orang tua' yang telah lama menekuni seni wayang, dia kerap menemukan fakta bahwa seni leluhur karya anak negeri ini kian hari posisinya memang semakin terlupakan oleh generasi muda.
''Kalau sekarang saja mereka sudah tak tertarik menonton pergelaran wayang, dalam beberapa tahun ke depan, siapa yang akan mewarisinya, dan seperti apa jadinya seni ini?'' ujarnya dengan gundah.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
|
|